Sabtu, 07 April 2012

Catatan Dari Seorang Sahabat 2 : Wanita Harus SMART Dalam Menentukan Pilihan Hati

Assalamualaikum, 

Sahabat, 

Setiap pria dan wanita pasti memiliki criteria masing-masing dalam menentukan siapa orang yang akan dia pilih sebagai pendamping hidupnya yang pasti setiap orang akan berkata “Nyari pendamping hidup itu liat agamanya” sesuatu yang tidak salah. Tetapi sangat disayangkan di zaman sekarang banyak orang yang memilih pendamping hidup hanya dilihat dari segi duniawi saja. Paras muka menjadi prioritas yang paling utama. Astagfirullah 

Bila membicarakan masalah pilihan hati saya teringat dengan  perkataan teman-saya : 

“Banyak pria menggunakan logika dalam dalam menentukan pilihannya jarang yang menggunakan perasaan, sehingga walaupun jatuh bangun dalam proses penentuan pilihan hati mereka jarang sekali terpukul dan terpuruk ketika gagal untuk menggapainya, pria masih bias bangkit dan yakin bahwa di luar sana masih banyak yang terbaik untuknya yang telah Tuhan ciptakan.” (pengalaman pribadi ^_^) 


“Sedangkan wanita, banyak wanita yang menentukan hati banyak menggunakan perasaaannya banyak yang tidak memakai logika. Sehingga ketika dia jatuh dan gagal dalam menggapai impian bersama pilihan hatinya, banyak mereka yang “GALAU” terpukul dan terpuruk dalam keadaan. Seakan-akan mereka tidak yakin bahwa apa yang terjadi itu hanyalah sebuah mimpi bukan sebuah kenyataan. Sehingga mereka tidak bias berpikir realistis dengan semuanya bahkan ada yang tidak meyakini bahwa masih banyak pria baik di dunia untuk mereka. Mereka selalu meyakini bahwa “Sang Mantan” lah yang terbaik” 


Menanggapi fenomena wanita yang seperti itu teman wanita saya yang bernama Anisa Nurkhasanah ( Barakallahu Fik : smoga Allah selalu merahmati kebaikan untuk mu,,, amiin) berkata :


“Satu-satunya cara buat bahagia itu cuma IKHLAS, IKHLAS melepas masa lalu dan maju ke masa depan. IKHLAS menerima perubahan keadaan karena PERUBAHAN tidak bisa dihindari akan PERUBAHAN yang menjadikan hdup berwarna. CINTA tidak perlu belajar, cinta datang dengan sendirinya, saat wanita memutuskan buat maju ke masa depan dan memilih yang baru berarti mereka harus KONSEKUEN untuk meninggalkan masa lalu, itu siklus khidupan, SAYANG itu pilihan juga, kalo dari awal punya KOMITMEN lupain masa lalu dan bener-bener mau ngejalanin serius sama yang baru nanti lama-lama beneran bisa sayang, ya gak instan sih semua butuh proses, luka dihati wanita itu lama sembuhnya karena wanita sendiri lebih suka terluka dan hidup di masa lalu, mereka akan lebih sayang sama orang yang melukai mereka daripada orang yang brusaha keras menarik perhatiannya dengan seribu kebaikan”


Dari situ saya berpikir sebenarnya apa yang salah sehingga hadir fenomena seperti itu. Karena banyak sekali teman wanita saya yang kena sindrom itu. Banyak teman saya yang curhat dan sedikit meminta saran sama saya, walaupun saya juga sama sedikit kena sindrom “GALAU”, heeeee. Saya mencoba mencari jawaban untuk bisa sedikit memberi saran yang bisa membuat mereka sedikit bangkit dari keterpurukannya. Saya pun mencari dan mencoba searching di mbah google.com

Alhamdulillah, Allah masih meridhoi langkah saya untuk dapat membantu sesama. Kemudian saya menyampaikan ilmu yang saya dapet dan berkata kepada mereka (teman2 wanita saya) : 

“Wanita itu harus SMART dalam menentukan dan memilih jodoh untuk mendampingi hidup ini dan berjuang menjalankan tugas sebagai seorang manusia yang terlahirkan di dunia. Sebagai khalifah di muka bumi ini. 

Smart dari wanita dalam hal ini adalah pertimbangan dalam menentukan dan memilih jodoh, yaitu: 


1. Pikiran. 


Wanita harus smart menggunakan pikirannya dalam menentukan dan memilih jodohnya. Wanita harus mempertimbangkan foktor-faktor real, untung ruginya memilih seseorang sebagai pendamping hidup. Cari yang sevisi dan semisi dengan jalan hidup kita. 


2. Hati 


Wanita harus bertanya pada hati kecilnya yang cenderung berkata benar. Kita harus dapat membedakan antara suara hati kita dan hasrat yang cenderung bersifat ke arah nafsu. Disini harus ada komunikasi antara kita sebagai manusia dengan pemilik kehidupan ini, kita bisa mempertanyakan apakah jodoh kita adalah si A dengan sholat istikharah. Temukan suara hatimu. 


3. Perasaan 


Pendamping hidup adalah seorang yang akan menemani kita selama sisa hidup kita. Dia tempat berbagi suka maupun duka, curhat bagi kita. Dia harus dapat menerima kita dalam keadaan terpuruk sekalipun. Dia harus dapat menghibur disaat kita bersedih. Begitupun sebaliknya. Wanita harus mempunyai “rasa” terhadap pasangan yang akan dipilihnya. Dia juga harus bias menjadi seperti “pahlawan super” bias berubah seperti apa yang kita inginkan. Bukan berubah menjadi seperti superman atau batman tapi harus bias merubah dirinya kapan dia bisa menjadi seorang suami yang mengayomi istrinya, seorang ayah bagi istri maupun anak-anaknya, seorang sahabat yang selalu ada saat dibutuhkan untuk berbagi cerita suka maupun duka dan yang terpenting menjadi seorang imam yang menjadi panutan dalam keluarga. 

Sahabat, jangan hanya mengandalkan perasaan saja, karena akan terasa sakit bila tersakiti atau kecewa dengan sesuatu yang tidak bisa kita gapai.” 

Sedikit menceritakan tentang postingan saya yang "Menentukan Pilihan Hati" agar mereka bisa lebih yakin dan percaya bahwa “Semua kan indah pada waktunya, Selalu yakin bahwa Allah telah menciptakan makhluk terindah untuk menemani kita di sisa hidup di dunia ini dan di syurga-Nya kelak” dengan bercerita sedikit tentang "Catatan Dari Seorang Sahabat" bahwa tulang rusuk itu tidak pernah tertukar. 

Wahai sahabat-sahabat ku, tak perlu takut dalam menentukan pilihan hati, dan tak usah sampai terpuruk bila kalian gagal dalam menggapainya, SEMANGAT untuk gapai kasih sayang dalam ridho-Nya. Semoga selalu dalam keberkatan Allah. Amiin

Wallahu’alam
Read More.....

Menentukan Pilihan Hati 2 : Menentukan Pilihan Jodoh, Hak Anak atau Orang Tua ???

Sejauh mana peran penting orang tua dalam memilih jodoh anak-anaknya? Bagaimana dengan hak anak, apakah hanya menunggu pilihan orang tuanya ?????

Kewajian Orang tua kepada putra-putrinya adalah menjaga anaknya kembali kepada fitrahnya yakni untuk menyembah kepada Allah SWT (beragama Islam), mendidiknya menjadi anak shaleh dan shalehah. Dan ketika sudah dewasa, orang tua mencarikan jodoh untuknya.

Dalam mencarikan jodoh bagi putra-putrinya, didasarkan pada criteria yang telah dituntunkan Rosululloh SAW. Sabda Beliau :

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, (jika tidak) maka celakalah kamu”. [HR. Jamaah kecuali Tirmidzi]

Kriteria untuk memilihkan jodoh ada 4 hal :

1. Nasab (keturunan)
2. Harta (kekayaan)
3. Pangkat/Jabatan (kedudukan)
4. Agama (keimanan)

Keempat criteria tersebut dapat dipenuhi, andaikata 3 hal paling atas tidak bisa didapatkan makan point yang ke-4 haruslah ada, yakni keimanan. Sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan apalagi dilupakan. Kunci utama manakala mencari jodoh, menentukan pilihan akan siapa yang akan menjadi jodohku adalah KEIMANAN. Kecantikan, ketampanan, kekayaan dan jabatan yang tinggi janganlah jadi syarat utama, tetapi jadikanlah agama dan keimanan hati sang calon jodoh sebagai hal utama. Islam menghargai pilihan orang tua dang menghargai pula pilihan anak. 

Dalam Islam ada keseimbangan peran antara orang tua dan anak. Seorang anak dalam Islam berhak menentukan pilihannya sendiri, namun orang tua juga harus diberi informasi tentang calon pasangannya.

Orang tua harus memenuhi pilihan anaknya apabila memenuhi syarat yaitu agamanya baik. Begitu juga anak harus menerima pilihan orang tua jika dinilai baik dari segi agamanya. Yang terbaik adalah seorang anak memahami kehendak orang tua ketika menentukan pasangan hidupnya sehingga tidak perlu ada benturan.

Dalam Islam, terlarang orang tua menghalangi anaknya menikah hanya karena calonnya orang miskin, atau orang yang kurang mampu dari segi materi, pangkatnya rendah, bukan dari keluarga ningrat, bukan anak tokoh, pendidikannya tidak tinggi, bukan dari suku tertentu, dan tempat tinggalnya jauh.

Dikatakan oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah bahwa: Bila wali mengawinkan puterinya dengan laki-laki yang lalim atau fisik atau ahli bid’ah atau pemabuk, berarti ia telah berbuat durhaka pada agamanya dan rela menerima kutukan Tuhan, karena ia telah putuskan talikeluarga dengan memilihkan suami yang jahat kepada anaknya.

Dalam kondisi tertentu dimana seorang anak kesulitan mendapatkan jodohnya, orang tua dituntut perannya untuk memilihkan jodoh untuk anaknya.

Maka dari itu, diperlukannya sikap yang saling menghargai masing-masing pihak agar terjadi kesinambungan antara keduanya, dan mengurangi kemungkinan terjadinya perselsihan.

Apabila dalam menentukan jodoh ternyata anak telah memiliki pilihan calon sendiri atau tidak cocok dengan pilihan orang tua maka langkah yang paling jitu adalah untuk saling mengkomunikasikan pilihan-pilihannya. Maka orang tua akan menimbang apakah calon-calon tersebut sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau tidak. Jika cocok! Orang tua yang bijak seyogyanya akan mendukung pilihan tersebut sepenuhnya. Tetapi jika terjasi perbedaan dalam permasalahan ini makan dikembalikan kepada aturan Allah dan rasul-Nya.

Jika terjadi perbedaan pendapat antara orangtua dan anak tentang jodoh yang akan dipilih, langkah terbaik adalah masing-masing memberikan gambaran lengkap tentang pilihannya masing-masing. Lalu menimbangnya apakah sesuai dengan criteria yang Rasululloh SAW berikan apa tidak.

Kebanyakan anak-anak dijaman sekarang cenderung hanya terpaku kepada paras saja yang elok, apakah kaya atau tidak ditambahi lagi adanya ‘budaya edan’ tentang pacaran. Apabila terjadi yang demikian, maka orangtua wajib memberikan arahan, nasehat dan pengertian yang tepat gimana cara mencari dan menentukan jodoh sesuai Al Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW.

Dan manakala seorang anak yang beriman mendapatkan hal yang demikian, tidak ada pilihan lain selain taat kepada orangtua. Taat merupakan bagian dari sikap berbhakti kepada orangtua. Menerima dengan lapang dada, ikhlas dan yakin akan kebaikan yang akan didapatkan.

Namun apabila orangtua memilihkan berdasarkan criteria yang menyimpang seperti berdasar arah angin, weton, primbon dan hal menyimpang lainnya maka wajiblah sang anak untuk tidak menaatinya.

Yang utama adalah orang tua mencarikan jodoh, lihatlah keimanannya dahulu. Demikian pula bagi sang anak, lihat dan cek keimanannya calon istri atau calon suami. Karena istri Sholihah, suami yang sholeh merupakan pakaian terindah dan nikmat terbaik dalam kehidupan ini.


Sumber : kabardarimuslim.blogspot.com & mta-online.com
Read More.....

Kamis, 05 April 2012

Menentukan Pilihan Hati

Bismillahirahmanirrahim,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sahabat, setiap manusia yang hidup di dunia ini, tidak bisa menghindari diri bahwa kita kan menemukan sesuatu yang namanya masalah. Sehingga terkadang kita harus menentukan satu pilihan dalam menemukan satu solusi terbaik diantara pilihan-pilihan solusi yang terbaik. Suatu saat kita akan berjumpa dengan pilihan-pilihan yang besar. Misalnya dalam menentukan pekerjaan bahkan sampai menentukan pasangan hidup.


Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash:

Rasulullah Shalallahu Aalaihi Wassallam bersabda: 

“Di antara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah dan diantara kebahagiaan manusia adalah keridhoanya pada apa yang Allah tentukan. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahaannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya” (HR. Imam Ahmad )

Hadits diatas menuntun kita tentang bagaimana menentukan pilihan yang baik dan benar agar membawa kebahagiaan sekaligus memberi peringatan agar kita tidak salah memilih dan terhindar dari kesengsaraan.

Rasulullah memberi dua ciri orang yang bahagia :
  • Pertama orang yang menentukan segala pilihannya berdasarkan pilihan Allah SWT dan tidak berdasarkan  hawa nafsu dan keinginan duniawi lainnya. 
  • Kedua orang yang ridho dengan ketentuan dan pilihan Allah SWT, artinya orang tersebut menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah tentukan kepadanya tanpa banyak mengeluh. Tawakal dalam menerima takdirnya.
Rasulullah juga memberi dua ciri orang yang merugi (sengsara) :
  • Pertama orang yang meninggalkan Allah SWT dalam menentukan segala pilihannya. Maksudnya orang tersebut meninggalkan tuntunan dan syariat-Nya bahkan bertentangan dengan Islam dalam menentukan pilihannya.
  • Kedua orang yang menolak apa yang telah Allah tentukan untuknya. Ia tidak menerima takdirnya.
Lalu bagaimana cara menetukan pilihan ?????

Manusia adalah makhluk yang dengan kesempurnaannya tetap memiliki kekurangan, terutama dalam menentukan pilihan yang di luar kemampuan analisanya. Ia tidak mampu melihat kegaiban masa depan apakah itu baik atau buruk nantinya. Inilah hikmah dari disunnahkannya Istikharah, agar manusia tetap menjalin hubungan dengan Tuhannya saat akan menentukan pilihan, meminta pertolonganNya agar ia bisa memilih dengan baik dan tepat. Allah SWT berfirman:

”Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-sekali tidak ada pilihan bagi mereka (apabila Allah telah menentukan). Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. Dan Tuhamnu mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagiNyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagiNyalah segala penentuan dan hanya kepadaNyalah kami dikembalikan (Al-Qasas 68-70). 

Sebagaimana yang telah Rasulullah ajarkan : 

Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata  Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami istiharah pada semua perkara sebagaimana beliau mengajarkan al-Quran. Beliau bersabda:

"Apabila salah satu dari kalian dihadapkan pada permasalahan maka hendaknya ia shalat dua rakaat selain shalat fardlu, kemudian hendaknya ia berdoa (artinya) "Ya Allah sesungguhnya aku meminta pilihanMu dengan ilmuMu, dan meminta keputusan dengan ketentuanMu, Aku meminta kemurahanMu, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan aku tidak ada daya untuk menentukan, Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara gaib. Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini (lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku saat ini dan di waktu yang akan datang, atau baik bagi agamaku dan kehidupanku serta masa depanku maka tentukanlah itu untukku dan mudahkanlah ia bagiku lalu berkatilah. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan masa depan perkaraku, atau bagi urusanku saat ini dan di masa mendatang, maka jauhkanlah ia dariku dan tentukanlah bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang terjadi, lalu ridhailah ia untukku”. ( HR Ahmad, Bukhari dan Ashabussunan)

Inilah solusi terbaik yang harus dipraktekkan oleh setiap muslim di setiap dia menjumpai suatu persoalan yang menuntut pada suatu pilihan. Bagi yang berhalangan melaksanakan shalat, misalnya perempuan yang sedang datang bulan, maka diperbolehkan baginya untuk hanya membaca doa Istikharah.

Dalam hal apa sajakah kita harus memilih ?????

Allah memberi kita karunia akal dan nalar yang bebas. Dengan akal dan nalar kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan dengan akal dan nalar tersebut kita mempunyai kemampuan untuk menganalisa dan menentukan pilihan dalam perkara dunia. Selain itu banyak petunjuk agama yang mengajarkan kepada manusia bagaimana menentukan perkara apakah itu baik atau buruk.

Rasulullah SAW bersabda :


"Kebaikan adalah apa yang membuat hati tenang dan mejadikan nafsu tenang, keburukan adalah apa yang membuat hati gelisah dan menimbulkan keraguan” ( HR. Ahmad )


Dalam masalah jodoh, Rasulullah SAW bersabda :

"Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang mempunyai agama niscaya kamu beruntung” (HR Muslim). Berlaku pula untuk perempuan, utamakanlah memilih seseorang yg mempunyai agama.

Kedua hadist tersebut menunjukkan bahwa memilih adalah pekerjaan manusia. Agama memberikan petunjuk rambu-rambu untuk memilih dengan baik. 

Rasulullah saw juga mencontohkan dalam sebuah hadist :


"Rasulullah saw ketika dihadapkan dua pilihan, beliau selalu memilih yang termudah selama itu tidak mengandung dosa, apabila itu mengandung dosa maka beliau menjauhinya” ( HR. Muslim )


Beliau pun ketika memilih sesuatu menggunakan analisa dan nalar beliau, namun selalu mengutamakan yang mudah. Begitu juga ketika seorang hamba dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit dan kemudian dia melaksanakan shalat istikharah sesuai ajaran Rasulullah, tidak berarti ia lantas menyuruh Allah memilihkan pilihannya dan ia hanya cukup berdoa saja dan menunggu petunjuk dan berpangku tangan. Itu adalah anggapan yang kurang tepat. sholat istikharah adalah doa agar dalam kita memilih, kita diberikan kekuatan oleh Allah dan tidak salah pilih, namun pekerjaan memilih itu sendiri harus kita lakukan dengan baik melalui analisa, kajian, penyelidikan, musyawarah dll. Setelah proses tersebut kita matangkan, maka dengan disertai doa yaitu shalat istikharah mudah-mudahan pilihan kita tidak salah.

Bagaimana dengan jawaban istikharah ?????

Tidak ada dalil yang menunjukkan tanda-tanda jawaban dari shalat istikharah. Ini memperkuat uraian di atas bahwa yang memilih adalah kita, bukan Allah memilihkan kita, tetapi kita berdoa agar Allah memberikan kekuatan kita dalam memilih.

Ulama besar Syafii, Iz bin Abdussalam mengatakan setelah istikharah seorang hamba hendaknya mengambil keputusan yang diyakininya dengan pasti. Ulama lain Kamaluddin Zamlakani mengatakan selesai shalat istikharah hendaknya seseorang mengambil keputusan yang sesuai keyakinannya, baik itu sesuai dengan bisikan hatinya atau tidak, karena kebaikan adalah pada apa yang ia yakini, bukan dari apa yang cocok di hatinya. Bisikan hati kadang dipengaruhi oleh perasaan subyektif dan tidak ada dalil yang menyatakan seperti itu. Imam Qurtubi juga mengatakan hal yang sama dan menambahkan hendaknya hatinya dibersihkan dari hal-hal yang mempengaruhinya. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa sebaiknya tidak mengikuti kecenderungan hati karena biasanya itu dipengaruhi oleh hal lain sebelum melaksanakan shalat istkharah.

Itu benar, misalnya seseorang yang sudah dirundung rasa cinta mendalam terhadap seseorang, mana mungkin ketika dia istikharah akan mendapatkan jawaban untuk tidak memilihnya.

Setelah memilih dengan analisa dan pertimbangannya yang matang, hendaknya juga diikuti sikap tawakkal, bahwa itu mudah-mudahan pilihan yang tepat dan mudah-mudahan Allah akan memudahkan semuanya.

Banyak orang menanti jawaban istikharah melalui mimpi, atau melalui membuka Quran secara acak lalu mencoba mencari jawabannya melalui ayat yang tak sengaja terbuka, atau dengan butiran-butiran tasbih dan lain-lain. Itu semua tidak mempunyai landasan dalil dan hadist.

Selain dengan istikharah, hendaknya dalam pemecahan suatu masalah disertai dengan musyawarah dengan orang-orang yang kompeten dan bijak dalam masalah yang dihadapi itu. Hal ini sebagai wujud realisasi dari firman Allah ta’ala :

"… dan bermusyawarahlah kepada mereka dalam urusan itu (peperangan, perekonomian, politik dan lain-lain). Bila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah…” (Ali Imran, 3: 159)

Mereka dalam ayat diatas bisa saja mengaju kepada kedua orang tua, suami/istri bahkan kepada sahabat yang memang kita percaya untuk berbagi dalam mengambil solusi atas keputusan yang telah kita buat.

"Sahabat, tak usah sedih dan kecewa yang berlarut-larut karena keinginan yang tidak tercapai. Selalu yakinlah karena Allah SWT akan memberi yang terbaik bagi tiap individu atau mungkin juga kita akan mendapatkannya dikesempatan yang lain. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata Allah, tapi apa yang baik dimata Allah pasti baik untuk kita. YAKINLAH"

Wallahu'alam


Suqran untuk semua literatur sumber yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Afwan jika tidak berkenan dalam pengambilan sumbernya. Semoga Allah meridhoi langkah kita semua untuk berdakwah di jalannya. Amiin
Read More.....

Rabu, 28 Maret 2012

Wahai Ukhti : Nasehat Untuk Annisa

Ukhti Muslimah .................

1. Jauhilah olehmu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan jagalah lisanmu dari cerewet.

Sesungguhnya Allah berfirman:

"Tiada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (An-Nisa':114)

Ketahuilah bahwa di sana ada orang yang menghisab pembicaraanmu dan menghitungnya atasmu. Ringkaslah pembicaranmu, dan bicaralah sebatas maksud dan tujuanmu!

2. Bacalah Al-Qur'an Al-Kariem, dan berusahalah agar ia menjadi wirid harianmu, juga berusahalah untuk menghafalkannya sesuai dengan kemampuanmu, agar engkau memperoleh pahala yang besar kelak di hari kiamat.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amir Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallahu 'Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

"Kelak (di hari kiamat) akan dikatakan kepada pembaca al-qur'an, bacalah, pelan-pelanlah dan tartilah (dalam membacanya) sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, sesungguhnya tempat dan kedudukanmu ada pada akhir ayat yang kamu baca." (Hadits Shahih, Tirmidzi, 1329)

3. Tidak baik jika kamu membicarakan semua pembicaraan yang telah kamu dengar, sebab yang demikian itu memberi peluang kepadamu untuk jatuh dalam lubang kebohongan.

Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu meiwayatkan, sesungguhnya Nabi Shallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Cukuplah seorang dianggap sebagai pembohong, jika dia membicarakan semua apa yang telah didengarnya." (Muslim dalam Mukaddimahnya, hadits No:5)

4. Jauhilah sifat sombong dan bangga diri dengan sesuatu yang bukan milikmu karena untuk pamer dan menyombongkan diri di depan manusia.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha bahwa ada seorang perempuan yang berkata: wahai Rasulullah, aku katakan bahwa suamiku telah memberiku sesuatu yang tidak pernah diberikan kepadaku. Kemudian Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Orang yang merasa kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya sebagaimana orang yang memakai pakaian kepalsuan." (Muttafaq Alaih)

5. Sesungguhnya dzikir kepada Allah memiliki pengaruh yang agung bagi kehidupan ruh, jiwa, badan, dan sosial seorang muslim.

Oleh karena itu wahai ukhti muslimah berusahalah berdzikir kepada Allah dalam setiap saat dan keadaan, sesungguhnya Allah telah memuji hamba-hamba-Nya yang ikhlas kepada-Nya, firman-Nya:

"Yaitu orang-orang yang mengingat (dzikir) Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring." (Ali Imran:191)

6. Jika engkau hendak berbicara janganlah engkau agung-agungkan, jangan engkau fasih-fasihkan, dan jangan pula engkau buat-buat, sebab yang demikian itu adalah sifat yang dibenci oleh Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam

Beliau bersabda:

"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya kelak di hari kiamat ialah mereka yang suka bicara (yang tidak berfaedah), dan yang suka mengada-adakan pembicaraannya, dan para Mutafaihiqun (orang yang mengagung-agungkan pembicaraan bohong)". (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi, 1642)

7. Hendaklah engkau berteladan kepada Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam , yang senantiasa lebih banyak diam dan berfikir, tidak memperbanyak tertawa apalagi berlebih-lebihan di dalamnya.

Jika kamu berbicara, maka batasilah pembicaraanmu hanya yang baik-baik saja, jika kamu tidak bisa maka diam itu lebih baik bagimu. Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia mengatakan yang baik atau lebih baik diam." (Bukhari)

8. Janganlah sekali-kali memutus pembicaraan orang lain atau membantahnya atau menampakkan pelecehan terhadapnya, tetapi jadilah pendengar yang baik yang mendengarkan pembicaraan orang lain dengan sopan (sebagai tanda budi baikmu), dan jika engkau terpaksa membantah ucapan mereka bantahlah dengan cara yang lebih baik (untuk menampakkan kepribadianmu).

9. Waspadalah sepenuhnya dengan sikap mengejek dan merendahkan dialek pembicaraan orang lain, seperti terhadap orang yang kurang lancar bicaranya atau terhadap mereka yang berbicara dengan tersendat-sendat.

Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (mengolok-olok)." (Al-Hujurat:11)

10. Jika engkau mendengar bacaan Al-Qur'an al-Karim, maka hentikan pembicaraanmu apapun masalah yang sedang engkau bicarakan, karena menghormati terhadap kalamullah,

dan untuk mengindah perintah-Nya yang mana Dia telah berfirman:

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan baik (tenang) agar kamu mendapat rahmat." (Al-'Araf:204)

11. Senantiasa menimbang kata-kata (ucapanmu) sebelum diucapkan oleh lisanmu, dan berusahlah agar kalimat yang terucap oleh lisanmu adalah kalimat yang baik dan menyejukkan tetap dalam kerangka jalan kebaikan, jauh dari keburukan dan sesuatu yang menghantarkan kepada murka Allah. Sesungguhnya kata-kata itu memiliki tanggung jawab yang besar, sudah berapa banyak kata-kata yang memasukan pengucapnya ke dalam surga, sebaliknya sudah berapa banyak kata-kata yang menenggelamkan pengucapnya ke lembah Jahannam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu dari Nabi Shallahu 'Alaihi wa Sallam beliau bersabda: 

"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang mengandung ridla Allah, seakan-akan manusia tidak peduli dengannya maka Allah akan mengangkatnya dengannya beberapa derajat, dan seorang hamba berbicara dengan suatu yang dimurkai Allah, seakan-akan manusia tidak peduli dengannya maka Allah menceburkannya karenanya ke dalam lembah Jahannam." (HR. Bukhari,6478)

12. Pergunakanlah lisanmu untuk beramar ma'ruf dan nahyi munkar serta untuk berdakwah kepada kebaikan, karena lisan adalah nikmat Allah yang agung yang telah dikaruniakan kepadamu.

Allah berfirman:

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia." (An-Nisa':114)

sumber : voa-islam.com
Read More.....

Bidadari dan Bidadara

“Ganjaran yang disediakan di sisi Alloh untuk orang yang mati syahid: Diampuni dosa-dosanya sejak tetes pertama darahnya; diperlihatkan tempatnya di surga dan dijauhkan dari siksa kubur; diamankan dari guncangan yang dahsyat; diletakkan di atas kepalanya mahkota dari permata yaqut yang lebih baik dari dunia dan segala yang ada di dalamnya; dinikahkan dengan 72 bidadari; memberikan syafaat bagi 70 orang kerabatnya.” (HR. Ahmad, At Turmudzi – hadis hasan, dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

Di antara sekian ganjaran yang Alloh swt janjikan bagi kaum beriman adalah mendapatkan bidadari surga (huurun ‘ien). Banyak ayat dan hadits yang melukiskan sosok bidadari.

”Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik” (QS. Ar Rahmaan: 70)
Bidadari-bidadari tersebut sangat baik akhlaknya dan sangat cantik wajahnya. Mereka selalu sopan terhadap suaminya.

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya” (QS. Ash Shaaffaat: 48). “
(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.” (QS. Ar Rahmaan: 72). Mereka menundukkan pandangannya dari melihat pria selain suaminya dan mereka menundukkan kakinya dari keluar rumah.

Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya pergi di jalan Alloh pada pagi hari atau sore hari adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sungguh busur panah salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kalau seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi aroma yang harum semerbak. Sungguh kerudung seorang wanita surga lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR Bukhari).

Adakah Bidadara bagi Perempuan Penghuni Surga?

Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya mengenai ayat Al Quran yang banyak memberi kabar gembira bagi mukminin dengan balasan bidadari, sementara tidak disebutkan bidadara bagi mukminat.

Syaikh Abdullah bin Jibrin menjawab: “Kenikmatan Surga sifatnya umum untuk laki-laki dan perempuan. Alloh berfirman: ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan’ (QS. Ali-Imran: 195). Ayat serupa terdapat pula pada QS. An-Nahl: 97, An-Nisa’: 124, dan Al-Ahzab: 35.

Alloh menyebutkan bahwa wanita akan diciptakan ulang. ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan’ (QS. Al-Waqi’ah: 35-36). Maksudnya mengulangi penciptaan wanita-wanita dunia dan menjadikan mereka perawan kembali, yang tua kembali muda. Telah disebutkan dalam hadits bahwa wanita dunia mempunyai kelebihan atas bidadari karena ibadah dan ketaatan mereka. Para wanita yang beriman masuk Surga sebagaimana kaum lelaki. Jika wanita pernah menikah beberapa kali, dan ia masuk Surga bersama mereka, ia diberi hak untuk memilih salah satu di antara mereka, maka ia memilih yang paling baik diantara mereka.” (Dinukil dari Fatawal Mar’ah 1/13, yang dikutip dalam Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia “Fatwa-fatwa tentang wanita”).

Syaikh Muhammad al-’Utsaymin ditanya tentang perempuan shalihah yang belum pernah menikah di dunia atau ia menikah namun suaminya tidak masuk surga, lalu dengan siapa perempuan shalihah tersebut menikah di surga nanti?

Beliau menjawab, “Jawaban atas pertanyaan ini dapat diambil dari keumuman firman Alloh Ta’ala: ‘… Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.’ (QS. Fushshilat: 31). Juga dalam QS. Az-Zukhruf: 71.

Maka niscaya perempuan shalihah tersebut akan mendapati bahwa di surga ada pria-pria (yang siap menikah), yang mana pria-pria (dunia yang masuk surga) tersebut memiliki istri-istri dari kalangan bidadari dan wanita-wanita dunia. Maka perempuan shalihah tadi, apabila ia ingin menikah maka ia pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan tersebut.” [Fatawa al-'Aqidah, hal. 312].

Beliau juga berkata, “… hanya disebutkan istri-istri bagi para lelaki di surga dan tidak disebutkan suami-suami bagi para wanita, bukan berarti para wanita tersebut tidak memiliki suami (di surga). Wanita-wanita tersebut tetap memiliki suami, yaitu lelaki dari kalangan anak Adam (lelaki dunia yang masuk surga).” [Fatawa al-'Aqidah, hal. 313].

Bagi laki-laki dan perempuan beriman yang ditakdirkan tidak menikah di dunia, maka mereka akan memperoleh suami/istri dari laki-laki dan perempuan dunia yang masuk ke surga. Karena di dalam surga tidak ada yang melajang.

”Sesungguhnya rombongan yang pertama masuk surga, wajahnya seperti rembulan saat purnama. Rombongan berikutnya, wajahnya bercahaya seperti bintang-bintang yang kemilau di langit. Setiap orang dari mereka mempunyai dua istri di mana sumsum tulang betisnya bisa dilihat dari luar. Di surga tidak ada yang melajang.” (HR Bukhari dan Muslim). Lelaki dunia penghuni surga memiliki dua jenis istri: yaitu perempuan dunia yang masuk surga, dan bidadari surga.
Perempuan Dunia yang Masuk Surga Lebih Utama daripada Bidadari

Sifat dan keindahan bidadari surga akan melekat pula pada perempuan-perempuan shalihah yang memasuki surga.

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waaqi’ah: 35-37).

Ibnu Abbas berkata, “Wanita-wanita yang dimaksud adalah wanita-wanita dunia yang (diantaranya ada yang) tua dan beruban.” Qatadah dan Sa’id bin Jubair berkata, “Mereka diciptakan sebagai makhluk baru yang belum pernah ada sebelumnya”. Tafsir ini diperkuat hadits Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Wanita-wanita surga adalah wanita-wanita kalian yang dulunya sudah kabur penglihatannya dan kotor bulu alisnya” (HR. Ats Tsauri).

Apabila perempuan masuk surga, maka Alloh akan mengembalikan usia muda dan kegadisannya.

Seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad saw meminta didoakan agar masuk surga. Nabi menjawabnya dengan sedikit bergurau: “Sesungguhnya tidak ada wanita tua yang masuk surga.” Kemudian terdengar wanita tua itu menangis, lantas beliau saw bersabda, “Beritahu wanita itu, bahwa dia tidak akan memasuki surga dalam keadaan tua. Saat itu adalah hari muda.” Lalu beliau saw membacakan Al Waaqi’ah: 35-37. (HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, dan Ath-Thabrani).

Ibnu Qayyim Al Jauzi berkata bahwa proses penciptaan langsung di surga (tanpa mengalami proses kelahiran) dalam surat Al-Waqi’aah ayat 35, terjadi pada dua jenis wanita penghuni surga, yaitu: bidadari-bidadari surga dan wanita-wanita dunia yang masuk surga. (Tamasya ke Surga. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah: 2000 M).

Perempuan dunia yang masuk surga lebih mulia daripada para bidadari.

Ibnu Katsir saat membahas surat Al Waaqi’ah mengangkat hadits dari Abul Qasim ath Thabrani yang meriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata, “Aku bertanya kepada Rasululloh saw, ‘Terangkan padaku tentang firman Alloh: uruban atrooban.’ Rasululloh menjawab, ‘Mereka adalah perempuan-perempuan dunia, meskipun ketika wafat dalam keadaan tua renta, namun Alloh swt menjadikan mereka perawan-perawan yang lemah lembut, muda dan sebaya, serta besar rasa cintanya.’ Aku bertanya, ‘Ya Rasululloh, siapa yang lebih utama antara perempuan dunia dan bidadari surga?’ Rasululloh menjawab, ‘perempuan-perempuan dunia (yang beriman) lebih utama dari bidadari surga seperti keutamaan yang tampak dari yang tidak tampak, hal itu karena ibadah dan ketaatan mereka di dunia, Alloh swt akan mengenakan cahaya pada mereka, mereka kekal dan dalam keridhoan.’ Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasululloh, ada salah seorang dari kami menikah sampai empat kali. Jika dia masuk surga dan keempat suaminya pun masuk surga, maka siapakah nanti yang akan menjadi pasangannya?’ Rasululloh saw menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata, “Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya” … ‘Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam pembahasan surat Al-Waqi’aah).

Itulah mengapa para ulama menyatakan tidak ada bidadari lelaki (bidadara) di surga, karena perempuan-perempuan dunia yang masuk surga akan menikahi laki-laki dunia yang masuk surga. Sebagaimana Ibnu Katsir saat membahas surat At Tahriim menyebutkan hadits Bukhari dan Muslim mengenai kesempurnaan Asiah istri Firaun, Maryam binti Imron, dan Khadijah binti Khuwailid. Ibnu Katsir juga mengangkat hadits lain bahwa Asiah istri Firaun dan Maryam binti Imron akan menjadi istri Rasululloh saw di surga bersama perempuan-perempuan yang menjadi istri Rasululloh di dunia. Sedangkan bidadari-bidadari surga pada dasarnya hanyalah selir, dayang dan pelayan. Sementara perempuan-perempuan dunia yang masuk surga yang akan menjadi permaisuri, ratu dan istri utama dari laki-laki dunia yang masuk surga, mereka lebih cantik, saleh, dan berakhlak mulia.

Imam Al-Qurthuby dalam kitab tafsirnya menyebutkan beberapa atsar bahwa wanita dunia saat berada di surga akan jauh lebih cantik melebihi bidadari-bidadari surga, ini karena kesungguhan mereka dalam beribadah kepada Alloh swt (Lihat Tafsir Al-Qurthuby).

Mencari Bidadari Dunia dan Akhirat

“Pada kemaluan isteri kalian ada sedekah.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketika kami menyalurkan syahwat kepada isteri akan mendapat pahala?” Rasulullah menjawab, “Jika kamu menyalurkan pada yang haram, apakah terdapat dosa?” Sahabat menjawab, “Tentu.” Rasulullah berkata, “Demikian pula halnya jika menyalurkan pada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR. Muslim). Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari (Syarah Shahih Bukhari) berkata, “Imam Bukhari menujukan Bab man thalab al-walad li al-Jihad agar dalam melakukan hubungan intim hendaknya diiringi niat untuk mendapatkan anak yang berjuang di jalan Alloh sehingga ia mendapatkan pahala kendati tidak terwujud.”

Surga akhirat dapat dicapai dengan surga dunia, yaitu dengan menemukan istri shalihah yang memberikan surga dunia sekaligus mengantarkan pada surga akhirat.

“Jika seorang hamba menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, dan bertakwalah kepada Alloh terhadap separuh sisanya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Baihaqi dalam Asy-Sya’b, hadits hasan menurut Al-Albani dalam Shahih al-Jami’). “Barangsiapa yang diberikan Alloh isteri yang shalihah, maka itu dapat membantunya terhadap separuh ajaran agamanya. Maka bertakwalah kepada Alloh terhadap separuh yang lain.” (HR. Hakim).

Istri shalihah akan menjadi bidadari akhirat karena ketakwaannya (pada Alloh swt) dan ketaatannya (pada suami). “Apabila wanita melaksanakan (kewajiban) sholat lima waktunya, puasa (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia masuk surga” (HR. Ahmad dan lainnya).

Seorang wanita datang pada Rasululloh saw lalu berkata: “Aku adalah utusan para wanita kepada engkau untuk bertanya, jihad telah diwajibkan Alloh bagi kaum lelaki (dengan pahalanya yang sangat besar) … , lalu bagaimana dengan pahala kami kaum wanita?” Nabi saw menjawab, “Sampaikanlah pada para wanita bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu sama dengan jihad di jalan Alloh, dan sedikit sekali diantara kamu yang melakukannya” (HR. Al Bazzar dan Thabrani). “Jika suami memanggil isterinya ke tempat tidur lalu ia enggan mendatanginya sehingga suami marah, maka malaikat akan mengutuknya hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah seorang wanita shalihah mampu membuat cemburu para bidadari karena perjuangannya di dunia.

“Wanita adalah rais (pemimpin/pengelola) dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas pengelolaannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Asma binti Abu Bakar berkata: “Ketika Zubeir menikah denganku ia tidak mempunyai harta atau sesuatu yang lain kecuali kuda dan unta, maka akulah yang memberi makan, merawatnya, menumbukkan biji kurma untuk untanya, memberi minum, menjahit timbanya, membuat adonan tepung, dan aku membawa biji kurma di atas kepalaku sejauh sepertiga farsakh (sekitar satu jam perjalanan kaki) sehingga Abu Bakar pernah mengirimkan seorang khadim. Maka mengurus kuda adalah menjadi tugasku … ” (HR. Bukhari).

Namun tetap ada batasan ketaatan istri terhadap suami. “Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Alloh)” (HR. Ahmad dan Hakim).

Agar Menjadi Lelaki Penghuni Surga

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau ridha akan agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah (putrimu) dengannya, jika kamu tidak menerima (lamarannya) niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Merugilah orang tua atau perempuan yang mengejar lelaki hanya karena kekayaan atau penampilannya. Suami idaman (calon penghuni surga) ialah yang berkarakter kokoh, pemahaman agama yang baik untuk membimbing keluarganya, dan berakhlak mulia sehingga tidak menyakiti istrinya ketika sedang marah.

“Mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya” (HR. Turmudzi). “Takutlah kepada Alloh dalam (memperlakukan) wanita karena kamu mengambil mereka dengan amanat Alloh, dan engkau halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Alloh. Dan kewajibanmu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim).

Suami ideal, yang menjadi pendamping perempuan penghuni surga, adalah suami yang membimbing dan menafkahi istrinya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Alloh telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisaa’: 34).

“Apa yang kamu nafkahkan terhadap keluargamu, maka kamu mendapatkan pahala atasnya sekalipun (kamu miskin sehingga) yang dimakan isterimu hanya satu suap.” (HR. Muttafaq alaih). “Satu Dinar yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh, satu Dinar yang kamu nafkahkan kepada budak, satu Dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, satu Dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka pahala yang paling besar adalah apa yang kamu nafkahkan terhadap keluargamu.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Suami tersebut harus memiliki ghirah dan tidak memberi peluang terjadinya fitnah pada istri.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At Tahrim: 6). Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian (lelaki) masuk ke tempat wanita.” Sahabat bertanya, “Bagaimana kalau saudara ipar?” Nabi menjawab, “ipar itu maut (berbahaya)” (HR. Bukhari).

Suami pun harus berdiskusi dengan istri dalam proses pengambilan keputusan. “Bermusyawarahlah dengan wanita (istri) dalam urusan lamaran anak mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Suami juga harus memberikan kesempatan untuk istri berceria dan beraktualisasi. Istri dapat jenuh karena terus menerus berada di rumah, karena itu para suami harus dapat memberi hiburan dan rekreasi bagi istrinya. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bila hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan diajak dalam safar tersebut.

Dan yang tak ketinggalan ialah suami pun harus dapat membantu pekerjaan istrinya.

Aisyah pernah ditanya apa yang dilakukan Nabi saw di rumah, Aisyah berkata, “Adalah Nabi saw membantu pekerjaan istrinya, menyapu rumahnya, menambal pakaiannya, menjahit sandalnya, dan memerah kambingnya, maka apabila tiba waktu sholat ia pergi melakukan sholat” (HR. Bukhari).

Cinta Sejati: Suami-Isteri Dunia dan Akhirat

Alloh swt berfirman, “Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari orangtuanya, isteri-isterinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra’d: 23). ”Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 70).

Alloh swt berfirman (dalam hadits qudsi), “Kecintaanku terwujud kepada dua orang yang saling mencintai karenaku.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit dan dishahihkan al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami’). Alloh juga berfirman (dalam hadits qudsi), “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku. Hari ini (di Padang Mahsyar) Aku memberikan naungan-Ku kepada mereka, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Ku.” (HR. Muslim).

Jika tingkat keimanan antara suami dan istri tidak sama maka mereka tidak dapat bersanding karena berada di level surga yang berbeda. Ibnu Katsir dalam tafsir surat Al Haaqqah menyebutkan hadits shahih dari Ibnu Abi Hatim bahwa penduduk surga tingkat yang atas dapat mengunjungi penduduk surga di tingkat bawahnya namun penduduk surga tingkat yang bawah tidak dapat mengunjungi penduduk surga di tingkat atasnya.

Maka cinta sejati diperoleh dengan kerjasama dalam urusan dunia dan akhirat, sehingga berada dalam keimanan yang sama.

Nabi saw bersabda: “Semoga Alloh memberikan rahmat kepada seseorang yang bangun malam kemudian sholat dan membangunkan istrinya lalu ia pun sholat, jika istri enggan ia percikkan air dimukanya. Dan semoga Alloh swt memberikan rahmat kepada istri yang bangun malam kemudian sholat dan membangunkan suaminya lalu ia pun sholat, jika suami enggan ia percikkan air dimukanya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Para istri generasi salaf biasa berkata pada suaminya: “Takutlah pada Alloh, janganlah engkau mencari rizki yang haram karena kami mampu menahan lapar, tetapi kami tak akan mampu menahan siksa neraka.” (Pengantin Islam. Abdullah Nashih Ulwan. Al Ishlahy Press. 1993: Jakarta).

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisaa’: 19).

Ujian eksternal dapat diatasi jika internal rumah tangganya solid. Sedangkan ujian internal yang dominan ialah adanya sifat-sifat pasangan yang tidak disukai. Jika sifat itu merupakan hal buruk maka harus diubah secara hikmah, dan baik suami maupun istri harus mau mengubah kebiasaan buruknya. Namun ada juga sifat yang merupakan keunikan karakter, dan ayat di atas menjadikan kesabaran sebagai solusi.

Dari Aisyah: “Tidak pernah keluarga Muhammad saw makan sampai kenyang dengan roti gandum untuk tiga malam berturut-turut sejak kedatangan mereka di Madinah hingga wafatnya” (HR Muslim). Nabi Muhammad saw dan keluarganya hidup sangat sederhana, namun mereka menjadi qudwah bahwa orang-orang miskin pun bisa bahagia. Karena kebahagiaan berada di ketenangan hati (QS. Al Fajr: 27 – 30).

“… Jika mereka miskin Alloh akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Alloh Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Kendala ekonomi bukanlah penghambat menikah. Ketika kedua pasangan sepakat bahwa tujuan utama mereka adalah mendekatkan diri pada Alloh swt, maka masalah ekonomi, ego keluarga, dan ejekan orang lain akan dapat ditepis. Sehingga mendapatkan istri shalihah merupakan faktor utama keberlangsungan pernikahan.

“Perempuan itu lazimnya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena (kemuliaan) keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah perempuan yang memiliki agama, (jika tidak) maka binasalah engkau” (HR. Bukhari dan Muslim).

“… wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka) …” (QS. An Nisaa’: 34). “Tidak ada manfaat yang lebih baik bagi seorang Mukmin setelah takwa kepada Alloh selain dari pada isteri yang salehah. Jika memerintah padanya, ia mematuhinya. Jika memandang padanya, ia menggembirakannya. Jika suaminya tidak ada di sisinya, ia menjaga harta dan dirinya.” (HR. Ibnu Majah).

Calon istri ideal tidak harus cantik atau kaya. Calon istri idaman ialah yang berkarakter kokoh, sholihah sebagaimana disampaikan dalam ayat dan hadits di atas. Dia tidak menjadikan harta sebagai ukuran, dia siap untuk berjuang bersama, dan dialah yang akan menjadi bidadari tercantik di surga.

Karena sesungguhnya dunia itu sementara dan sangat singkat. “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An Naazi´aat: 46).

Sedangkan akhirat adalah abadi, yang satu harinya adalah 1000 tahun waktu dunia. “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47).


Wallohu A’lam BishShowab.
Read More.....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Photobucket
Ad