Senin, 27 Februari 2012

Gadis Yang Tak Mencuri Hatiku


...بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Sholawat dan salam atas seorang nabi yang tiada nabi sesudahnya. Amma ba’du.

Siapakah aku, sehingga diriku pantas diperebutkan? Aku adalah kehormatan. Aku adalah kecemburuan yang bersemayam di dada setiap muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Aku adalah akal yang sehat, aku adalah hukum-hukum syariat. Aku adalah kemuliaan. Aku adalah rasa malu. Aku adalah kesucian. Aku adalah kebaikan, dan aku adalah kehidupan yang bahagia.

Setelah aku perkenalkan kepada kalian siapakah sebenarnya diriku ini? Maka aku merasa perlu untuk memperkenalkan kepada kalian, siapakah gadis yang tidak menarik hatiku, yang tidak akan pernah merenggut cintaku.

Dia adalah gadis yang tidak tahu arah dan tersesat jalan; gadis yang tidak punya adab, akhlaq dan kepribadian. Aku katakan kepada kalian, kenapa hatiku tidak terpikat dan tidak tertarik? Karena dia telah menanggalkan rasa malu dan mencampakkannya. Karena dia telah melepaskan diri dari Islam, dan menggantinya dengan gaya hidup wanita-wanita barat yang durhaka.

Dia mengira kecantikan adalah segalanya! Tapi, sesungguhnya kecantikan itu bukanlah seperti yang dibayangkan oleh wanita yang hina lagi terperdaya ini. Kecantikan itu adalah kecantikan ilmu, adab, dan pribadi.

Siapapun yang berjalan dalam gelimang narkotika dan jarum suntik yang najis itu, maka dia adalah seburuk-buruk manusia, di hadapan orang yang tidak silau akan penampilan.

Gadis itu tidak menyadari, bahwa kesombongan akan kecantikan dan hartanya, justru akan menjerumuskannya dalam kebinasaan abadi di dalam neraka.

Sebenarnya, wanita jalang yang hanya diperebutkan laki-laki hidung belang itu, tidak lagi bisa terpagari oleh agama, kehormatan dan rasa malu yang dimilikinya. Dia, wanita yang telah mencampakkan kerudung kehormatan dan jilbab kesucian. Dia, tidak pernah berpikir tentang kehidupan di dalam kubur dan siksaannya. Allah telah berfirman:

} إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً {

“Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan hitungan.” (QS. an-Naba’: 27).

Dia tidak lagi memiliki sekelumit niat atau sisa-sisa semangat untuk meneladani wanita wanita shalihah, berbakti kepada Islam, dan mengharap surga Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luasnya seluas langit dan bumi.

Yang ada dalam benaknya hanyalah apa yang dipakai oleh artis fulan dan fulan? Film-film yang diperankan oleh artis-artis Prancis, Hongkong, Hollywood, dan Bollywood?

Demi Allah Pemilik Ka’bah, alangkah ruginya wanita yang malang ini. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


« صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَارِ لَمْ أَرَهُمَا قَطُّ: نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ .. »

“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah sama sekali kulihat; wanita-wanita yang mengenakan pakaian tapi telanjang, dan wanita-wanita yang gampang tergoda dan suka menggoda.”

Alangkah ruginya dia. Ketika di dunia, dia menjadi bahan cemoohan di antara saudara dan keluarga. Sementara di akhirat, siksa pedih akan menimpanya.

Betapa lemah akalnya. Dia tidak pernah mau mendengar nasihat dan peringatan orang-orang yang menyayanginya dan yang mengkhawatirkannya dari neraka yang bahan bakarnya manusia.

Yang lebih naif, dalam pandangannya, orang-orang yang selalu mengingatkannya adalah orang-orang yang terbelakang, tidak mengerti peradaban, serta tidak memahami hakekat kehidupan. Maha benar Allah Yang Maha Agung ketika Dia berfirman:

} أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ {

“Apakah engkau mengira terhadap orang yang menjadikan sesembahan hawa nafsunya dan Allah telah menyesatkannya berada diatas ilmu sedangkan Allah telah menutup pendengarannya dan hatinya dan telah menjadikan atas penglihatan mereka tertutup, maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah.” (QS. al-Jatsiyah:23).

Ya, gadis ini telah menjadi budak hawa nafsunya. Angan-angannya telah menipunya. Berapa kalipun engkau ingatkan dan engkau nasehati, tetap saja dia enggan mendengar. Dia akan terus berjalan dalam kubangan lumpur dan kegelapan. Ucapan orang-orang yang mengingatkanya tidak mampu lagi menyelamatkannya untuk tidak terperosok ke dalam neraka Hawiyah

Waktu terus berjalan, dan dia tetap dalam lalai dan sesat. Dia lupa, bahwasanya setiap hari yang berlalu adalah pengurangan dari umurnya, dan setiap jam yang berputar, selalu membuatnya semakin dekat kepada kuburan yang sudah menantinya.

Dia benar-benar telah menjadi musuh bagi dirinya, agamanya, dan masyarakatnya. Dengan tanpa rasa malu, dia selalu membual di depan kawan-kawannya, bercerita tentang masalah-masalah yang tidak pantas, yang siapapun pasti akan merasa malu untuk menceritakannya. Semua itu dia dapatkan dari media audio visual, cetak dan elektronika. Bahkan dia mengajak teman-temannya untuk meniru tingkah lakunya. Maka, sudah pantas kalau dia di kemudian hari akan mendapatkan dosanya dan dosa setiap orang yang mengikutinya.

Betapa ruginya wanita ini…..!!!!

Umurnya hilang, perbuatannya sesat, sedang maut setiap hari memanggilnya.

Bisa jadi, dia berhasil meraih ijazah kesarjanaan. Akan tetapi ijazah ini justru akan menambah beban yang memberatkannya, dan bukan menjadi keberuntungan yang membahagiakannya.

Betapa hina dan tertipunya gadis ini. Dia tenggelam dalam lautan angan-angan, dan binasa dalam samudera asa. Padahal kematian adalah sangat dekat. Lebih dekat dari tali sandalnya.

Dia suka dengan jalan-jalan di pasar-pasar dan dan tempat hiburan, tanpa memperhatikan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dirinya.

Dia biasa tidur amat nyenyak tanpa ingat kewajiban. Dia tidak pernah sadar akan adzab Allah yang telah menantinya. Dia bisa tertawa riang bersama teman-temannya, padahal Rabb-nya Yang Maha Suci memurkainya. Dia tidak pernah ingat tempat tinggalnya yang sempit dan gelap di kuburan kelak, padahal dia pasti akan dibaringkan di dalamnya.

Dia tidak suka jika ada orang yang bicara soal kematian, karena akan mengganggu kelezatannya dalam menikmati hal-hal yang haram. Dia berusaha menipu dirinya sendiri hingga ajal menyerangnya. Sehingga, pantaslah jika kelak dia akan menjadi diantara orang orang yang berkata, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal kebajikan) untuk hidupku ini” (QS. al-Fajr:24) “Betapa sangat menyesalnya aku atas kelalaianku dalam (melakukan kewajiban) terhadap Allah.” (QS. az-Zumar:56).

Maka jika maut telah mendekat, engkau akan melihat tangis dan air mata, ketika ditampakkan di hadapannya rekaman kehidupannya yang hitam dan kotor. Dia telah memperdaya banyak pemuda, dengan dandanan, perhiasan dan suaranya yang nakal. Dia mengkhianati kedua orang tuanya dan membuat murka tuhannya.

Kelak, ketika sudah berada di depan pintu gerbang akhirat, dia akan mengiba, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku mengerjakan amal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan” (QS. al-Mukminun:99-100).

Aku ingatkan kepada gadis itu, “Ketahuilah, bahwasanya kuburmu sekarang sudah menunggumu. Kubur itu, untuk dirinya, bisa berwujud sebuah taman diantara taman-taman di surga, tapi juga bisa berubah menjadi lubang diantara lubang-lubang neraka. Jika engkau berada di dalam yang pertama, maka berbahagialah dan bergembiralah. Tapi, jika engkau berada di dalam yang kedua, betapa celaka dan ruginya dirimu.

Demi Allah, tidakkah engkau duduk merenung sejenak? Di manakah tempat kembalimu, di antara kedua lubang tersebut? Kuburan manakah yang menjadi balasan bagimu ?

Hai gadis yang bimbang, tidakkah engkau ingat seorang teman wanitamu, yang telah telah dicabut nyawanya oleh Allah? Tidak pernahkah engkau membayangkan, temanmu itu berkata bahwa dia akan beramal soleh seandainya diberi kesempatan untuk kembali hidup didunia? Dan tidakkah engkau berpikir dan bertanya pada dirimu: Kenapa maut telah menjemputnya, sementara dirimu di biarkan hidup ? Bisa jadi, ini merupakan suatu rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagimu, Dia ingin mengingatkanmu dan memberi kesempatan padamu.

Maka sudah sepantasnya, jika orang yang mau mendengar nasehat orang lain diberi predikat sebagai orang yang berakal.

Jika engkau sudah mulai tertarik dengan ampunan Allah dan rahmatNya, maka ingatlah sebuah ayat yang sering dibaca Abu Hanifah rahimahullah, ketika dia sholat tahajjud di akhir malam. Dia sering tidak mampu menyelesaikan bacaannya karena menangis dan takut akan termasuk di antara mereka. Padahal, beliau dikenal sebagai seorang ulama yang amat bertakwa dan zuhud. Ayat itu adalah firman Allah, “Dan tampak bagi mereka dari Allah atas apa yang mereka tidak mengiranya.” (QS. az-Zumar:47). Sementara dirimu telah menumpuk amalan-amalan buruk dan engkau merasa aman dari siksa Allah. Ini merupakan puncak kerugian.

Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya ada suatu kaum, sesembahan mereka berupa angan-angan akan mendapatkan ampunan Allah dengan mudah, sehingga ketika keluar dari dunia, dia tidak mempunyai amal kebaikan sama sekali. Salah seorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya aku berprasangka baik kepada Rabku”, padahal dia dusta. Seandainya berprasangka baik, pasti dia akan memperbaiki amalannya.” Kemudian beliau membaca ayat, yang artinya,
“Dan telah tampak bagi mereka dari Allah, apa yang tidak mereka sangka sangka.” (QS. az-Zumar:47).

Wahai saudariku, wahai orang yang telah mendholimi dirinya sendiri, janganlah engkau tertipu oleh wanita-wanita jalang yang durhaka, atau oleh orang-orang yang seperti mereka. Orang-orang seperti mereka selalu hidup dalam ancaman bahaya, dan bukan dalam kemajuan. Karena, sesungguhnya wanita-wanita kafir itu tidak lebih dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan, “Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat dari jalan kebenaran.” (QS. al-Furqon:44).

Kemudian perhatikanlah tempat kembali mereka setelah itu, “Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, siksa neraka jahanam kalian kepadanya akan mendatangi.” (QS. al-Anbiya:98). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman untuk mengingatkan kita dan kaum muslimin, “Dan orang orang yang kafir, mereka bersenang senang dan mereka makan seperti binatang maka neraka adalah tempat kembali bagi mereka.” (QS. Muhammad:12).

Apakah engkau ingin seperti mereka? Kulitmu akan merinding dan bulu kudukmu berdiri. Kemudian, engkau akan berteriak sekeras kerasnya, “Aku berlindung kepada Allah”. Maka, sesudah itu aku berharap kamu akan berkata: “Aku mohon ampunanMu, ya Rabbi”.

Wahai saudariku, maafkan aku jika terlalu keras dalam mengingatkanmu. Sesungguhnya ini adalah jeritan sayang, nasihat cinta kasih, teriakan cemburu. Aku telah menulisnya dengan air mataku, agar engkau membuka telingamu, dan engkau mengikuti hati nuranimu serta agar pikiranmu kembali sadar. Ini adalah peringatan bagi orang yang memiliki hati dan pendengaran.

Aku memohon kepada Allah, semoga Allah menjadikan pandanganmu sebagai ibroh (pelajaran), diammu sebagai perenungan, dan ucapanmu sebagai dzikir. Dan semoga Dia menjadikan dirimu sebagai hambaNya yang mendapat petunjuk dan mampu memberi petunjuk, hidup bahagia, mati syahid, dan dikumpulkan bersama Aisyah dan Fatimah serta Khadijah Radhiallahu ‘Anhama. Bersama wanita wanita yang telah mendapat limpahan nikmat Allah, yang berupa nasihat, dakwah kepada Allah serta ikhlas terhadap agama ini. Wallahu'alam Bishawab .
Read More.....

Sabtu, 25 Februari 2012

Kategori Cinta Berdasarkan Alquran Dan Hadist


Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :

• lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
• lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain
• lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri

Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Al-Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma – norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
Read More.....

Kriteria Ikhwan Sejati sebagai Idola Sejati Akhwat


Kalau ada Akhwat(Wanita) Sejati Impian Sejati Ikhwan(Laki-laki), tentu juga ada Ikhwan Sejati impian sejati seorang Akhwat.

Paling tidak ada 60 Kriteria Ikhwan(Laki-laki) Idaman (Ideal) menurut Islam yakni Ikhwan mukmin (beriman) yang :
  1. Islam menjadi pedoman hidupnya yang utama (QS.6:153);
  2. Ikhlas menjadi dasar hidupnya (QS.2:207); 
  3. Taqwa menjadi bekal hidupnya (QS.2:197); 
  4. Taat menjadi karakteristik khasnya (QS.3.132); 
  5. Shalat dan sabar merupakan kekuatannya (QS.8:56;32:24); 
  6.  Tsabat (teguh) merupakan sikap hidupnya (QS.8:45); 
  7. Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat hatinya (QS.49:10;43:67); 
  8. Tidak mengenal sikap palsu, kamuflase, banyak tingkah dan takabur (QS.25:63); 
  9. Ruang jiwanya dipenuhi oleh perhatian dan kepedulian yang besar dan penuh kesungguhan dalam   mencapai hadaf (tujuan baik) mereka (QS.28:55); 
  10. Detik-detik malamnya amat berharga, diisi dengan ibadah Qiyamul Lail/Muraaqabatullah (QS.25:64 : 17:79. 76:26); 
  11. Senantiasa risau dan amat takut akan azab Neraka Jahanam (QS.25:65-66); 
  12. Punya ukuran-ukuran yang jelas atas kebenaran dalam kehidupannya (QS.25:67.17:29); 
  13. Tidak menyekutukan Allah, dan tidak menantang (menyalahi) perintah Allah (QS.25:68-71); 
  14. Tidak menyia-nyiakan hak orang lain dan tidak menzalimi seorangpun (QS.25:72); 
  15. Hatinya lurus dan hidup subur, dengan iman yang benar (QS.25:73); 
  16. Senantiasa menginginkan kebaikan yang dilakukan menjamah dan berlanjut untuk setiap generasi (QS.25:74-76); 
  17. Senantiasa Jujur dalam perkataan dan perbuatan; 
  18. Senantiasa menjaga tali silaturrahmi; 
  19. Senantiasa menjaga amanah yang diberikan; 
  20. Senantiasa menjaga hak tetangga; 
  21. Senantiasa memberi kepada yang membutuhkan; 
  22. Senantiasa membalas kebaikan orang lain; 
  23. Senantiasa memuliakan tamu; 
  24. Memiliki sifat malu; 
  25. Senantiasa menepati janji; 
  26. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi); 
  27. Berakhlak baik/mulia kepada sesama makhluk Allah; (Matiinul khuluqi); 
  28. Senantiasa Shalat tepat pada waktunya; 
  29. Senantiasa memautkan hatinya ke masjid /Cinta Shalat berjamaah di Masjid;
  30. Senantiasa membaca dan mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya; 
  31. Sederhana dalam urusan dunia dan paling cinta pada urusan akhirat; 
  32. Paling suka melakukan amar ma’ruf nahi munkar; 
  33. Paling berhati-hati dengan lidahnya (menjaga lidah); 
  34. Senantiasa cinta pada keluarganya; 
  35. Paling lambat marahnya; 
  36. Senantiasa memperbanyak istighfar, berdzikir dan mengingat Allah swt dan memperbanyak Shalawat Nabi; 
  37. Senantiasa suka dan ringan berzakat, infaq dan bersedekah; 
  38. Senantiasa menjaga wudhu; 
  39. Senantiasa menjaga Shalatnya terutama Shalat wajib; 
  40. Senantiasa menjaga Shalat sunnat Tahajjud dan Shalat Dhuha; 
  41. Paling cinta dan hormat pada kedua orang tuanya, terutama ibunya; 
  42. Cerdas / Pikirannya intelek (Mutsaqoful fikri); 
  43. Aqidahnya bersih/lurus (Saliimul ‘aqiidah); 
  44. Ibadahnya benar (Shohiihul ‘ibaadah); 
  45. Rendah hati (Tawadhu’); 
  46. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi); 
  47. Mampu mencari nafkah (Qaadirun’alal kasbi); 
  48. Senantiasa menjaga dan memelihara lidah/lisan (Hifdzul lisaan); 
  49. Senantiasa istiqomah dalam kebenaran (Istiqoomatun filhaqqi); 
  50. Senantiasa menundukkan pandangan terhadap lawan jenis dan memelihara kehormatan (Goddhul bashor wahifdzul hurumat); 
  51. Senantiasa lemah lembut dan suka memaafkan kesalahan orang lain (Latiifun wahubbul’afwi); 
  52. Benar, jujur, berani dan tegas (Al-haq, Al-amanah-wasyaja’ah); 
  53. Selalu yakin dalam tindakan yang sesuai ajaran Islam (Mutayaqqinun fil’amal); 
  54. Senantiasa pandai memanfaatkan waktu (untuk dunia dan akhirat) (Hariisun’alal waqti); 
  55. Sebanyak-banyaknya bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi); 
  56. Senantiasa menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun’anisy syubuhat); 
  57. Senantiasa berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’); 
  58. Senantiasa siap menolong orang yang lemah (Mutanaashirun lighoirihi); 
  59. Senantiasa berani bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang memusuhi kita (Asysyidda’u’alal kuffar); 
  60. Senantiasa mengingat akan datangnya kematian; 

Apakah anda atau suami atau (calon) suami/pasangan Anda telah memenuhi ciri-ciri pria idaman menurut Islam seperti di atas ?

Apabila sudah sebagian maka sempurnakanlah dan pertahankanlah, namun apabila belum senantiasa berusahalah untuk menyempurnakannya, karena memang Tidak ada insan yang sempurna, kecuali Rasulullah ﷺ , tapi senantiasa berusahalah menjadi yang mendekati kriteria-kriteria tersebut.

Semoga kita semua dan anak keturunan kita senantiasa diberikan petunjuk dan bimbingan oleh Allah swt untuk bisa menjadi insan dan laki-laki yang baik menurut Islam dan bagi akhwat semoga diberi Allah swt atau bagi akhwat (perempuan) dapat diberikan Allah swt pasangan laki-laki mukmin yang baik menurut Islam seperti disebutkan di atas. Amiin

Wallahualam bissawab
Read More.....

Sabtu, 24 September 2011

Hari-hari Yang Dimakruhkan dan Diharamkan Puasa


PUASA-PUASA YANG DIMAKRUHKAN

Puasa-puasa yang dimakruhkan itu adalah :

PUASA HARI JUMAAT ATAU HARI SABTU ATAU HARI AHAD SEMATA-MATA

Adalah makruh berpuasa pada hari Jumaat satu satunya sahaja tanpa di sambung sebelum atau sesudahnya dengan puasa yang lain. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

"Jangan kamu berpuasa pada hari Jumaat sahaja."(Hadits riwayat Ahmad)

Tetapi jika digabungkan puasa hari jumaat itu dengan satu hari puasa yang lain sama ada di sebelumnya atau sesudahnya, maka tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

"Jangan berpuasa salah seorang daripada kamu pada hari Jumaat melainkan (dia berpuasa) sehari sebelumnya atau selepasnya."(Hadits riwayat Bukhari)

Adapun dihukumkan makruh hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Sabtu kerana hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Busr daripada saudara perempuannya sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Jangan kamu berpuasa pada hari Sabtu melainkan apa yang telah difardhukan Allah ke atas kamu. Jika seorang daripada kamu tidak mendapati (pada hari itu apa-apa makanan) melainkan satu kulit anggur atau ranting pokok, maka hendaklah dia memamahnya. (supaya kamu tidak dinamakan berpuasa pada hari itu)" (Hadits riwayat Tirmidzi)

Maka oleh kerana itu juga dimakruhkan hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Ahad kerana hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani. Diriwayatkan oleh An-Nasa‘i bahawa hari-hari yang paling banyak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan puasa ialah hari Sabtu dan Ahad (dengan bergabung), dan baginda bersabda:

"Sesungguhnya Sabtu dan Ahad adalah dua hari raya bagi orang-orang musyrik dan aku suka supaya aku menyalahi mereka." (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603 dan Tuhfah Al-Muhtaj 3/458)

Jika dilakukan puasa dua hari tersebut (Sabtu dan Ahad) bersama-sama atau didahului puasa hari Sabtu itu dengan berpuasa pada hari Jumaat atau disambung puasa hari Ahad itu dengan berpuasa pada hari Isnin, maka tidaklah dihukumkan makruh kerana sedemikian itu tidak diagungkan oleh mana-mana kaum.

Dihukumkan makruh berpuasa sehari semata-mata pada tiga hari tersebut (Jumaat, Sabtu dan Ahad) apabila tidak ada sebab lain yang dianjurkan untuk berpuasa. Apabila ada sebab lain yang menganjurkan untuk berpuasa seperti bertepatan hari tersebut dengan puasa hari Arafah, ‘Asyura’ atau hari tersebut bertepatan dengan puasa orang yang melakukan puasa Nabi Daud (berpuasa sehari dan berbuka sehari) atau ia melakukan puasa pada hari tersebut kerana puasa qadha atau nazar, tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

"Jangan kamu mengkhususkan pada malam Jumaat untuk mendirikan sembahyang (malam) daripada malam-malam yang lain, dan jangan kamu mengkhususkan pada hari Jumaat untuk berpuasa daripada hari-hari yang lain kecuali satu puasa yang (kebetulan bertepatan) seorang di antara kamu berpuasa (pada hari itu)." (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603, Fath Al-‘Allam 4/165 dan Syarh Shahih Muslim 4274)(Hadits riwayat Muslim)

PUASA SEPANJANG TAHUN SELAIN DUA HARI RAYA DAN HARI-HARI TASYRIQ

Adalah makruh hukumnya berpuasa sepanjang tahun selain dua hari raya dan hari-hari Tasyriq bagi sesiapa yang takut akan kemudaratan atau terabai hak sama ada yang wajib atau yang sunat. Diriwayatkan daripada ‘Atha bahawa Al-‘Abbas, seorang ahli syair mengkhabarkan kepadanya bahawa dia mendengar Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata:

"Telah sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawasanya aku terus menerus berpuasa dan mengerjakan sembahyang malam. Sama ada baginda mengutus seseorang kepadaku (untuk berjumpa baginda) atau aku sendiri yang menemui baginda. Maka baginda bersabda: "Benarkah adanya dikhabarkan bahawa engkau berpuasa dan tidak berbuka dan engkau mengerjakan sembahyanag malam dan tidak tidur? Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan dirikanlah sembahyang malam dan tidurlah, sesungguhnya bagi dua matamu ke atasmu mempunyai bahagian hak dan sesungguhnya bagi dirimu dan keluargamu ke atasmu mempunyai bahagian hak" Dia berkata: "Sesungguhnya aku mempunyai kekuatan untuk mengerjakan sedemikian" Baginda bersabda: Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam" Dia berkata: "Bagaimana (puasa Nabi Daud ‘alaihissalam)?" Baginda bersabda: "Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari dan dia tidak lari apabila bertemu musuh (tetap segar dalam menghadapi musuh di medan pertempuran) Dia berkata: "Aku harus bagaimana (dalam hal ini) wahai Nabi Allah?" ‘Atha berkata: "Aku tidak mengetahui bagaimana disebut perihal puasa sepanjang masa". Nabi bersabda sebanyak dua kali: "Tidak dianggap berpuasa sesiapa yang berpuasa sepanjang masa."(Hadits riwayat Bukhari)

Tetapi bagi sesiapa yang tidak takut akan kemudaratan dan perkara-perkara yang boleh membawa kepada pengabaian hak-hak, tidaklah dihukumkan makruh berpuasa bahkan disunatkan. (Lihat Mugni Al-Muhtaj 1/603 dan Fath Al-Allam 4/165)



PUASA YANG DIHARAMKAN

Puasa yang diharamkan itu ialah:

Puasa pada hari raya Aidilfitri, Aidiladha dan hari-hari Tasyriq

Adalah diharamkan berpuasa pada hari raya Aidilfitri dan hari raya Aidiladha dan pada hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegah berpuasa dua hari iaitu hari raya Adha dan hari raya fitri."(Hadits riwayat Muslim)

Manakala daripada Nubaisyah Al-Hadzali berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

"Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum (bukan hari berpuasa)."(Hadits riwayat Muslim)

Puasa pada hari Syak dan hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban

Adalah haram berpuasa sunat pada hari Syak iaitu pada 30 haribulan Sya‘ban yang tersebar berita di kalangan orang bahawa anak bulan Ramadan telah dilihat, akan tetapi tidak disabitkan oleh hakim (pemerintah) kerana tidak dipersaksikan penglihatan anak bulan itu oleh seorang yang adil atau ianya dipersaksikan oleh dua orang kanak-kanak atau beberapa orang perempuan atau seorang hamba atau seorang fasik. Jika tidak ada tersebar berita tersebut maka tidaklah dikatakan pada hari itu adalah hari Syak bahkan ia adalah termasuk hari-hari daripada bulan Sya‘ban. Begitu juga adalah diharamkan berpuasa sunat pada hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban (16 hingga 30 Sya‘ban) tanpa ada sebab. Diriwayatkan daripada ‘Ammar bin Yasir berkata: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Al-Qamus Al-Fiqhi 201)

"Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang syak padanya manusia (hari Syak) maka sesungguhnya dia telah menderhakai Abu Al-Qasim Shallallahu ‘alaihi wasallam."(Hadits riwayat Tirmidzi)

Manakala diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Apabila telah masuk separuh bulan Sya‘ban maka janganlah kamu berpuasa."(Hadits riwayat Abu Daud)

Jika seseorang itu berpuasa pada hari Syak atau pada separuh kedua bulan Sya‘ban dengan ada sebab seperti puasa qadha, nazar dan kaffarah atau kebetulan bertepatan hari syak itu dengan puasa yang pada adatnya dia berpuasa seperti puasa hari Isnin dan Khamis dan puasa sehari dan berbuka sehari atau dia telah berpuasa pada 15 Sya‘ban dan berterusan puasanya itu tanpa berbuka hingga ke hari Syak, maka baginya dibolehkan berpuasa pada hari Syak dan separuh kedua bulan Sya‘ban itu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Fath Al-‘Allam 4/151-152)

"Jangan kamu dahului bulan Ramadan itu dengan berpuasa sehari dan juga dua hari melainkan puasa seseorang yang (kebetulan bertepatan) dia berpuasa (pada adatnya hari itu).(Hadits riwayat Muslim)

Puasa seorang isteri tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri

Adalah haram bagi seorang isteri berpuasa sunat atau puasa qadha muwassa‘ (yang mempunyai masa yang panjang lagi untuk diqadha) tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/461)

"Janganlah seorang perempuan (isteri) berpuasa sedangkan suami ada (di dalam negeri) melainkan dengan keizinan suami; dan janganlah dia mengizinkan (orang lain) masuk rumah suami sedangkan suami ada, melainkan dengan keizinan suami; dan apa pun yang dia nafkahkan dari hasil kerja suami tanpa perintah suami, maka separuh pahala itu adalah bagi suami."(Hadits riwayat Muslim)

Demikianlah disebutkan puasa-puasa yang sunat, makruh dan haram. Di antaranya ada yang dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan bersempenakan hari-hari tertentu dan ada pula dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan keadaan diri orang yang berpuasa. Semoga ia akan menjadi panduan dan rujukan ringkas dalam mengerjakan ibadah puasa-puasa sunat sepanjang tahun.
Read More.....

Kamis, 22 September 2011

Motivasi

A. Pengertian Motivasi
Motivasi adalah kekuatan atau daya dorong yang menggerakkan sekaligus mengarahkan kehendak dan perilaku seseorang dan segala kekuatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya yang muncul dari keinginan memenuhi kebutuhan.

B. Motivasi dan Harapan
1. Hierarkhi kebutuhan Maslow
Menurut Abraham Maslow kebutuhan orang bergantung pada apa yang telah mereka miliki, suatu kebutuhan yang telah terpenuhi bukan faktor motivasi lagi. Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hierarki kepentingan dari yang teredah ke yang tertinggi.




2. Harapan sebagai dasar utama motivasi
Motivasi bukan saja karena adanya kebutuhan, melaikan lebih karena adanya harapan akan dapat dipenuhinya kebutuhan itu. Harapan merupakan dasar penentu timbulnya motivasi.

C. Bentuk-bentuk Motivasi
1. Motivasi dan Manipulasi
Manipulasi adalah suatau cara untuk menggerakkkan seseorang untuk melakukan sesuatu, namun hal itu dia lakuakan karena orang lain menginginkan dia untuk melakukannya. Sedangkan motivasi adalah menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu sebab dia sendiri ingin melakukan hal itu. Dengan kata lain manipulasi bersumber dari luar diri sedangkan manipulasi berasal dari dalam diri sendiri.
2. Motivasi berdasarkan sikap
Motivasi berdasarkan sikap merupakan motivasi yang lahir dari diri sendiri, manyangkut bagaimana seseorang berpikir dan merasa. Motivasi berdasarkan sikap adalah bagaimana seseorang merasakan masa depan dan bagaimana mereka bereaksi terhadap masa lampau.
3. Motivasi Berdasarkan imbalan
Motivasi disebut berdasarkan imbalan apabila seseorang melakukan suatu aktivitas karena adanya suatu imbalan yang akan diterima. Imbalan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk lain, seperti pengakuan, penghargaan, pembebasan, penguasaan, dan sebagainya.
4. Motivasi dan lingkungan
Ada banyak tempat dimana seseorang sangat termotivasi untuk melakukan suatu aktivitas terdorong oleh sikap dasarnya yang memeng mau melakukannya, namun lama-kelamaan menjadi tidak efektif karena berbagai kendala lingkungan menghadangnya.
5. Gambaran orang yang termotivasi
Orang yang termotivasi dapat kelihatan dari penampilannya : dari cara berpakaian, cara berjalan, bahasa tubuh ( wajah, mata, eksprsi, dsb ). Bahasa tubuh kadang lebih otentik menyampaikan informasi yang benar tentang keadaan seseorang. Salah satu cara yang memperlihatkan termotivasi-tidaknya seseorang adalah dengan komunikasi, melalui lisan, isyarat atau bentuk lain. Orang yang termotivasi tampak memiliki energi yang amat berlimpah sehinga banyak hal yang dapat dia lakukan dan diselesaikan, walaupun dia punya banyak kesibukan.



D. Cara Memotivasi Diri
1. Memotivasi diri melalui rasa percaya diri
Beberapa hal yang berkaitan dengan pembangunan motivasi diri dengan membangun kepercayaan akan kemampuan diri sendiri.
a. Hindari mencari cari alasan
Hindari kata-kata seperti Saya Tidak Bisa, gantilah segera dengan kata-kata seperti Saya Bisa, Saya Mampu. Seseorang yang percaya diri adalah seseorang yang percaya pada kemampuannya untuk melakukan sesuatu tugas tertentu dan mencoba untuk mengubah kemampuan yang dirasakan menjadi hasil yang nyata.
b. Gunakan daya imajinasi
Gambarkan wujud apa yang anda inginkan. Semakin anda memikirkan itu semua semakin besar kepastian akan suatu hasil yang positif.
c. Jangan takut gagal
Takut gagal akan mengurangi kepercayaan diri, dan dengan sendirinya juga akan mengurangi motivasi diri sendiri. Satu-satunya cara untuk menaklukkan ketakutan adalah dengan melakukan hal yang ditakutkan itu.
d. Perhatikan penampilan
Penampilan lahiriah dapat memberi pengaruh besar bagi kepercayaan diri sendiri. Orang yang yakin akan penampilannya aklan lebih gampang mendapatkan kepercayaan dirinya sehingga lebih termotivasi untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang diinginkannya.

2. Memotivasi diri dengan menentukan sasaran
Tidak banyak orang yang selalu berhasil menentukan sasaran atau target apa yang ingin mereka capai sehingga mereka juga tidak memiliki arah yang jelas di mana tenaga hendak diarahkan.
3. Memotivasi diri dengan menyusun catatan sukses yang pernah diraih
Setiap orang sekurang-kurangnya dalam satu hal kecil pernah meraih sukses dalam hidupnya. Sukses masa lalu dapat menjadi bahan bakan yang dapat mengobarkan kepercayaan pada diri sendiri.

E. Beberapa Hambatan Tumbuhnya Motivasi
1. Kurang percaya diri
Penyebabnya :
• Rasa percaya diri hilang karena pengaruh perkataan orang lain, yang cenderung memberikan penilaian negatif terhadap apa yang kita lakukan
• Rasa kurang percaya diri yang disebabkan oleh pengondisian yang kita alami semasa kanak-kanak
• Rasa rendah diri karena pengalaman masa lalu, dimana orang pernah bahkan sudah beberapa kali mengalami kegagalan

2. Kecemasan berlebihan
Kecemasan adalah perasaan yang menghinggapi orang manakala ia terbayang akan apa yang bakal menimpa dirinya bila gagal.

3. Opini negatif
Opini negatif dapat sampai kepada kita dari berbagai sumber. Opini negatif tentang sesuatu dapat membuat seseorang menjadi tidak antusias dan termotivasi tentang sesuatu itu.
4. Merasa bukan bagian dari kelompok atau sasaran yang lebih besar.

F. Disiplin Mendukung motivasi
Motivasi perlu didukung oleh disiplin yang yang tinggi. Disiplin diri mencakup : sikap konsisten berjuang mencapai target yang sudah ditetapkan, mendahulukan yang utama dan mendesak tanpa mengabaikan kebutuhan-kebutuhan lain yang juga penting, dan tidak menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan. Dalam memenuhi kebutuhan dan harapan-harapan kita, kita tetap dituntut menghormati aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku.
Read More.....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Photobucket
Ad